“KEMATIAN YANG SUNYI”

Foto Ilustrasi Sonny

( Sebuah renungan Dan fakta Masa Kini)

Foto Ucapan duka dari Rektor Uncen Atas berpulang Bapak Dekan Fakutas Hukum Uncen Jayapura Papua

YOUTEFAPOST.COM
Semua orang takut. Takut akan kematian. Sebab ia seperti pencuri, Tiba-tiba. Mendadak. Tak terduga.

Tetapi yang lebih mencemaskan banyak orang saat ini bukan kematian itu. Tapi kematian yang sepi. Mati tanpa kata pamit keluarga, rekan kerja, tetangga, dan sahabat kenalan.

Tanpa lambaian duka dan krans bunga. Yang biasa berjejer sepanjang rumah duka hingga liang lahat.

Sore ini, ratusan civitas akademika dan para alumni berbaris rapi di Auditorium Universitas Cenderawasih Jayapura.
Itu terlihat di status dunia maya beberapa teman.
Mereka memberi penghormatan terakhir kepada salah satu putra terbaik di Fakultas Hukum Uncen, yang meninggal akibat Covid di RSUD Abepura, pagi tadi.

Hanya dengan lambaian tangan saat Ambulance berlari di tengah-tengah mereka. Sedih.

Covid benar-benar kejam.
Tak hanya memporak-porandakan sistem hidup manusia, tapi juga melenyapkan tradisi kematian yang biasa dirayakan.

Tak ada nyanyian penghiburan di rumah duka. Tak ada ibadah dan khotbah peneguhan pendeta atau pastor di gereja.
Mereka digiring menuju liang lahat bak penjahat, tanpa singgah sebentar di rumah kehidupan sebelumnya.

Tanpa peluk cium, tangis histeris anak istri, saudara di depan peti. Tiada arak-arakan duka di jalanan yang lazim.

Dua pekan terakhir, Indonesia kian parah diancam Covid. Ribuan orang setiap hari jatuh berguguran.
Di Papua pun sama parahnya.
Dua pekan terakhir, sudah 100 orang meninggal direnggut virus ganas ini. Sirene Ambulance mengaung sepanjang pagi hingga malam menuju Buper Waena. Bahkan hingga belasan kali sehari.

Lalu, masihkah kita acuh tak mau taati Prokes 3M: mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak hindari kerumunan? Masihkah kita enggan sadar diri menerima vaksin gratis? Masihkah kita sibuk berpolemik mempertanyakan kevalidan penyebab kematian dan kecurigaan faskes meng-Covid-kan pasien?

Kita bisa lakukan itu, Sebenarnya. Ini negara demokrasi. Hak kita berpendapat dan mengkritik.
Tetapi satu yang kita lupa. Kita dikejar waktu.
Kita bakal kehilangan waktu untuk menjaga diri, menyelamatkan keluarga dan sahabat, dan ikut andil menambah liang lahat baru.

Negara sudah tegas.!!?
Kita rakyat jelatah tak bisa mengegas melawan.
Jalani saja anjuran pemerintah dengan ikhlas.
Tentu dengan doa terus didaras. Niscaya Tuhan akan sayang kita masih ada di hari esok. Baku dapa, makan papeda, tertawa bersama penuh sukacita selepas pandemi.

Sa Jaga Ko, Ko Jaga Sa.
Kitorang Samua Selamat.
(GMR-Jayapura)

Facebook Comments
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *