Pro dan Kontra Mewarnai Peresmian Venue Stadion Papua Bangkit dan Bandar Udara Sentani

Caption foto Masyarakat Adat Sentani Memalang venue stadion Papua bangkit

Perubahan Nama Bandara Sentani dan Stadion Papua Bangkit Mendapat Pro dan Kontra

YOUTEFAPOST.COM, -(JAYAPURA), – Rencana perubahan nama bandar udara Sentani dan stadion Papua Bangkit mendapat penolakan.
Dewan Adat Sentani menolak tegas perubahan nama bandara Sentani jadi Theys Hiyo Eluay dan Stadion Papua Bangkit jadi Lukas Enembe.
Wakil Ketua Dewan Adat Sentani Orgenes Kaway, mengatakan perubahan nama kedua fasilitas publik tersebut berada di wilayat adat Suku Sentani sehingga Pemerintah Provinsi Papua seharusnya melakukan koordinasi atau duduk bersama pemangku kepentingan untuk mendengarkan masukan atau gagasan dari pemilik hak ulayat.

“Jadi, mereka (Pemprov Papua, red) harus libatkan tiga tungku, pemerintah adat dan agama tidak boleh di abaikan. Kami dewan adat mengambil sikap tegas karena belum ada koordinasi dengan kami sebagai wadah suku Sentani di sini,” tegasnya saat melakukan pemalangan di Bandara Sentani dan Stadion Papua Bangkit, Selasa (20/10/2020).

Orgenes bahkan mempertanyakan sikap Pemprov Papua terhadap penggantian nama stadion dan bandara, dimana sebelumnya Presiden Jokowi sendiri yang menamakan dengan nama Papua Bangkit sesuai visi dan misi Gubernur Lukas Enembe “Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera”.
“Presiden yang sahkan jadi peresmian juga harus Presiden, jangan kita main-main. Kalau mau ganti nama hari ini harus duduk sama-sama, karena Papua Bangkit itu sudah pas mewakili semua suku dan etnis di Papua ini,” tegasnya.

Pihaknya menyayangkan sikap Pemerintah yang mengabaikan masyarakat adat Sentani yang memiliki hak ulayat pembangunan stadion tersebut.
Untuk itu, Orgenes meminta pemerintah untuk menghargai hak Ulayat orang Sentani.

”Jangan begitu, Gubernur harus menghargai kami, karena kami juga rakyat dari bapak. Semua masyarakat yang ada di Papua ini adalah rakyat bapa yang bapa harus perhatikan dengan baik apapun masalah, apapun keluhan, harus duduk bicara “ pintanya.
Sedangkan nama bandara Sentani yang diwacanakan akan diubah menjadi bandara udara Theys Hiyo Eluay, dewan adat juga secara tegas menolak penggunaan nama tersebut dengan alasan pihaknya tidak ingin menjadi korban politik.

“Sebagai dewan adat kami menolak pergantian nama Bandara sentani menjadi Bandara Theys Hiyo Eluay dalam keadaan apapun kami tidak setuju! Bandara Sentani tetap Sentani, kami tidak mau jadi korban politik. Mereka boleh memikirkan apa saja tetapi nama Sentani adalah identitas dan jati diri kami,” tegasnya.

Jika nama bandara Sentani menjadi Theys Hiyo Eluay secara perorangan, maka DAS sangat tidak setuju. Alasannya, karena nama Sentani sudah masuk dalam bandara bertaraf internasional.

Dewan adat beranggapan penggantian nama Sentani sengaja dimainkan untuk menghilangkan identitas orang Sentani.
Ondofollo Yoboi Naftali Wally menyatakan Pemerintah harus segera menghentikan segala aktivitas di atas Tanah adat Suku Sentani yang digunakan untuk pembangunan venue PON 2021 mendatang.

Pemprov Papua harus segera menyelesaikan semua persoalan hak ulayat masyarakat adat.
“Pemerintah harus tanggung jawab, siapapun pemimpinnya harus melaksanakan koordinasi dan tidak mengambil keputusan sepihak. Dan Pemerintah harus membayar semua hak-hak masyarakat baru semua venue boleh digunakan,” pungkasnya.(OZIE)

Facebook Comments
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *