Presiden Jokowi : Negara Hadir Untuk Memberikan Rasa Aman Bagi Rakyatnya

Tampak salah satu Kapal Perang Armada AL RI yang Dikunjugi Presiden Joko Widodo

YOUTEFAPOST.COM, (JAKARTA),

Tampak Presiden RI Jokowi Di diberikan Penghormatan Dua orang Prajurit Angkatan Laut Yang Sedang Bertugas
Nawacita: Satu Negara Hadir Memberikan Rasa Aman dan Percaya Diri bagi Rakyatnya
Di masa mendekati kampanye ini, banyak orang mulai sibuk mencari celah untuk menyerang Jokowi. Bukan hanya kebijakan politiknya yang sekarang, bahkan visi-misi tahun 2014 kembali dibongkar dan dipertanyakan. Padahal kita tahu, janji itu sepenuhnya telah dilaksanakan. Kekuatan pemerintahan Jokowi sebenarnya hanya satu: bersih. Oleh sebab itu, ia kuat meski diserang dari segala penjuru.
Maka sebenarnya gampang sekali memberikan pembelaan pada pemerintahan yang bersih. Tidak perlu mereka-reka. Semua data ada, tinggal digali dan dibuka kembali.
Bukan berarti kabinet Kerja tanpa cela. Jika ada permainan, itu di tingkat bawah, di luar mekanisme pengawasan. Karena memang mustahil memantau sampai unit terkecil. Meskipun “permainan” yang dilakukan, jika ada, itu sebenarnya tidak melanggar hukum. Misalnya soal impor tanpa rekomendasi.
Visi-Misi Jokowi-JK itu diberi nama Nawacita. Isinya sembilan poin landasan pembangunan dari pemerintahan Jokowi-JK. Mempertanyakan Nawacita sekarang, itu sebenarnya terlambat. Karena sudah diimplementasikan dalam program-progam kerja. Visi-misi itu bahkan mendapat penguatan, ketika Jokowi terjun sendiri dan melihat dinamika di lapangan.
Namun itu usaha yang lumayan dari oposisi, daripada memfitnah dan menyebarkan hoax. Setidaknya ada sedikit argumen yang logis. Meskipun kata Hillary Duff, “So yesterday…”
Pasal pertama dari Nawacita itu adalah:
“Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.”
Sangat aneh jika hari ini mempertanyakan kesungguhan Pemerintah dalam menghadirkan rasa aman bagi rakyatnya. Apalagi jika melihat kerja keras yang telah dibangun selama ini. Anggaran pertahanan-keamanan naik, khusus Polri malah dua kali lipat.
Dengan itu gedung Polda Metro Jaya selesai dibangun. Setelah mangkrak selama 13 tahun. Renovasi Gedung Bareskrim baru dapat dilakukan setelah 40 tahun berdiri. Direktorat Tindak Pidana Cyber dibentuk, juga 2 Polda baru, 11 Polres baru, 99 Polsek baru, 144 Polsubsektor baru. Masih ditambah beberapa Korps baru demi menghadirkan rasa aman.
Di bidang kemaritiman, siapa yang tidak mengenal perempuan baja, Susi Pujiastuti? Ia adalah representasi paling nyata kesungguhan Pemerintah dalam mengembalikan slogan, “Jalesveva Jayamahe, di lautlah kita jaya.” Ribuan pencuri ikan terkaing-kaing. Pengusaha kotor tak berkutik. Negara terapung di tengah laut diobrak-abrik.
Laut kembali ke masa kejayaannya, ke dalam rengkuhan Ibu Pertiwi, melalui penjelmaan putri laut, Susi Pujiastuti.
Susi adalah nama yang mengerikan bagi para mafia. Oleh sebab itu ia mendapat penjagaan khusus setelah Presiden dan Wapres. Perempuan itu menolak lima triliun dan memilih berperang dengan para perampok hasil laut. Ia benar-benar ingin bekerja sepenuh hati, demi menyelamatkan laut yang dia cintai.
Pembangunan tujuh Pos Lintas Batas Negara yang menghabiskan anggaran 944 miliar, demi menaikkan harkat Negara di hadapan tetangga. Era kandang ayam telah berakhir. Wajah negara yang disegani ada di perbatasan. Para patriot berjuang setiap hari menjaga tapal batas dengan nyawa. Perjuangan itu harus diimbangi dengan perwajahan yang mencerminkan kebesaran Negara.
Di Natuna, Jokowi menghardik kapal Coast Guard Cina dengan mengadakan rapat terbatas di atas kapal perang tua, yang dibeli bekas dari Jerman buatan tahun 1981.
Satu pesan jelas diperlihatkan kepada negara kuat itu. Indonesia memang tidak sebanding kekuatan militernya dengan Cina. Setiap roket nuklir Cina bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia, hanya dengan menyentuh satu tombol. Kapal perangnya ribuan. Pesawat tempurnya banyak sekali. Tentara aktif mereka lebih dari satu juta.
Tapi ini harga diri bangsa. Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati, satu sentuhan di kening, satu jengkal tanah dibayar nyawa. Indonesia tidak takut pada negara sekuat Cina. Kami dibesarkan oleh perjuangan panjang. Dengan banjir darah dan derai air mata. Mati di medan tempur jauh lebih terhormat, daripada hidup terhina. Pesan itu yang disampaikan Jokowi saat ia berdiri di atas kapal perang tua di Natuna.
Tidak hanya di situ, Jokowi juga mengubah nama Laut Cina Selatan menjadi Laut Natuna Utara. Hal itu membuat Menteri Luar Negeri Cina berang. Tetapi lelaki koppig itu tak peduli. Batas terluar perairan di sekitar Natuna juga dilebarkan. Ini Indonesia Bung! Negara lain boleh tunduk dan takluk pada dominasi Cina di Laut Cina Selatan. Tapi Natuna adalah milik kami. Cukup Sipadan dan Ligitan yang lepas di era SBY. Tidak satu pulaupun boleh dicaplok negara lain lagi.
Jokowi telah membuktikan pasal pertama Nawacita itu dengan sungguh-sungguh. Indonesia tidak saja disegani negara lain, tapi juga turut menghadirkan keamaan di kancah dunia internasional. Negara telah hadir memberikan rasa aman. Indonesia tidak lagi memunggungi laut. Melalui penjelmaan putrinya yang perkasa, harga diri negara maritim di kembalikan ke tempat semestinya.
Yang dengannya, kita tak terlalu malu dan harus menundukkan muka di hadapan leluhur kita, datuk-datuk Sriwijaya dan laksamana gagah Majapahit. Para pelaut Bugis dan Maluku yang perkasa. Karena di laut, bangsa kita disegani sejak dulu kala…
(Red/Kajitow Elkayeni / Seword.com)

Facebook Comments
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *