Perangi Covid-19 dengan Memahami Trendnya di Tanah Papua

FOTO KANTOR DINAS KESEHATAN PROVINSI PAPUA SEBAGAI MEDIA CENTER COVID 19 TAHUN 2020

OLEH :
*Dr.Robby Kayame,SKM,MKes** Dr.dr.Arry Pongtiku,MHM***Elianus Tabuni,Mgr,MSc*** Arief Rahman,SKM

YOUTEFAPOST COM, – Covid -19 atau disebut virus corona telah menginfeksi lebih dari 140 negara dan mengakibatkan 6400
orang meninggal di dunia. WHO telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemic global. Banyak orang
bertanya “… kapan situasi Covid-19 di Indonesia atau Papua mencapai puncak dan kapan berakhir?”.
Tulisan ini akan memberi gambaran yang lebih nyata tentang keadaan Covid-19 di Papua yaitu melalui
trend (tren). Analisis trends merupakan suatu metode analisa statistika yang ditujukan untuk melakukan
suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik
maka dibutuhkan berbagai macam informasi/data yang cukup banyak dan diamati dalam waktu periode
yang relative cukup panjang, sehingga hasil analisis tersebut dapat mengetahui sampai berapa besar
fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut
(Wikipedia, free encyclopedia, 2020). Data epidemiologis ini diolah menjadi informasi yang kemudian
digunakan untuk pengambilan keputusan. Penting sekali memiliki data yang baik atau disebut juga
evident based. Penyakit Covid-19 adalah penyakit baru sehingga kita perlu terus belajar dan banyak hal
masih belum diketahui.
Para ahli Kesehatan Masyarakat dan Statistik mencoba memprediksikan berapa jumlah kasus covid-19
berdasarkan waktu dan jumlah penduduk yang terkena dan kapan pulih . Metode perhitungan estimasi
hampir semua negara menggunakan yaitu SIR (Susceptible, Infected, Recovered) model yaitu suatu tool
aplikasi yang menggunakan parameter Contact Rate (angka kontak),Transmitabilitiy (angka penularan),
Duration of Infectiousness (masa inkubasi), % needing ICU Care(prosentasi kebutuhan dirawat ICU) dan
Mortality Rate (angka kematian). Angka ini bergerak dengan menggunakan perkiraan dan asumsiasumsi.
Ada pula menghitung dengan memperkirakan attack rate atau populasi dengan resiko , dan
incidence rate /angka kejadian penyakit contoh dari BNPB. Ada pula menghitung dengan matematika
sederhana misalnya dengan melihat prosentase jumlah kumulatif Covid-19 positif dibagi dengan tes
PCR, kemudian mengalikannya dengan jumlah ODP dan PDP adalah kasus yang belum di dapat atau
tersembunyi (hidden cases) perkiraan pada saat itu.Berdasarkan data di bawah Gambar 1 . Prosentase
kasus positif :240/1266 x 100%= 19%. Jika kasus positif berasal dari penjaringan ODPdan PDP pertanggal
3 mei 2020 maka perkiraan yang belum dideteksi (2275 +310)x 19%= 2585×19%=491 orang.
Apapun model prediksi statistik, kecepatan pemutusan rantai penularan dan pemulihan situasi
Covid-19 sangat tergantung dari keaktifan kita menemukan kasus positif melalui penjaringan ODP
(Orang Dalam Pemantauan), PDP (Orang Dalam Pengawasan) dan test laboratorium Rapid dan PCR.
Ketaatan pencegahan kita melakukan Social Distancing (jaga jarak dan tinggal di rumah), menjaga
kebersihan dan kebugaran tubuh ( cuci tangan, gizi dan istirahat) dan wajib menggunakan masker. Kalau
kita tidak aktif menemukan kasus positif maka penularan akan terus terjadi. Kasus positif yang
ditemukan akan diobati dan diisolasi sehingga sembuh. Semua kasus positif awal (index case) ditelusuri
disebut pemeriksaan kontak. Pada awal scenario makin banyak penemuan ODP,PDP , kasus positif dan
pemeriksaan laboratorium(RDT,PCR) adalah sangat baik untuk memutuskan rantai penularan.
Pertanggal 3 Mei 2020 kumulatif kasus Covid-19 positif sebanyak 240 orang. Masih dirawat 173
orang(72%), sembuh 60(25%) dan meninggal 7 orang(3%). Ada 12 Kabupaten dan Kota yang telah
terpapar Covid-19 di Papua (Gambar 1)
Gambar 1. Infografis Covid-19 Provinsi Papua
Bagaimana Trend Covid-19 di Papua?
Untuk melihat trend epidemiologis pemutusan rantai penularan dan pemulihan Covid-19 ada 4 (empat)
indikator kesehatan yang penting yaitu
– Trend angka positif kumulatif Covid-19
– Trend angka positif kasus harian atau mingguan
– Angka kesembuhan (success rate)
– Kecepatan (speed)
I. Trend Angka Positif Kumulatif
Angka kumulatif adalah angka yang terus menerus ditambahkan jika ada kasus baru, artinya tidak akan
pernah berkurang. Grafik yang diharapkan adalah angka ini akan terus naik dan mencapai puncak
dan bergerak ke kanan menjadi garis lurus dimana tidak ada kasus baru lagi.
Gambar 2 di bawah ini menunjukkan Papua, grafik garis sedang mendaki dan belum ada garis lurus
sehingga disimpulkan di Papua proses penularan masih berlangsung , pemutusan rantai atau
penurunan kasus baru belum ada.
Gambar 2. Angka Kumulatif Covid-19 di Papua
Bagaimana angka ini di kabupaten dan kota di Papua?
1. Merauke
Merauke adalah kabupaten di Selatan Papua yang pertama kali melaporkan kasus Covid-19. Gambar 3
menunjukkan bahwa penanggulangan Covid-19di Merauke sudah memberikan ekspresi
penanggulangan ke arah lebih baik. Seiring naiknya ODP dan PDP penemuan kasus positif bertambah.
Yang menarik pada grafik positif kumulatif Covid-19 di Merauke adalah kasusnya naik kemudian
mendatar bergerak ke kanan artinya ada beberapa waktu tidak ada kasus baru. Hanya dibagian tengah
yaitu persisnya tanggal 10-16 April 2020 mengalami 3 kali kenaikan. Merauke harus lebih banyak
melakukan tes laboratorium dan PCR untuk memastikan proses penularan tidak terjadi dan terus
mempertahankan Social Distancing, physical distancing, hygiene, wajib masker dan kerjasama lintas
sektor untuk penanggulangan ini. Penanganan komprehensif dibutuhkan dan dampak sosial ekonomi
dan keamanan akibat Covid-19 terus dimonitor.
Gambar 3. Trend ODP,PDP dan Kumulatif positif Covid-19 di Merauke
2. Kota Jayapura
Pada gambar 4. Grafik menunjukkan seiring kenaikan ODP dan PDP ,terjadi kenaikan Positif kumulatif
Covid-19. Pada gambar tersebut menunjukkan angka positif kumulatif terus naik dan belum ada garis
memanjang kanan .Kota Jayapura kasus baru masih terus ditemukan artinya penularan masih
berlangsung.
Kota Jayapura adalah sentral karena berhubungan dengan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan
Sarmi. Tingkat mobilitas penduduk harus jadi perhatian. Selain aktif penemuan kasus lewat Rapid Test
dan PCR perlu mempertahankan social distancing, physical distancing, wajib masker dan kerjasama
lintas sektor dan partisipasi masyarakat. Terus melacak penularan cluster maupun transmisi lokal covid-
19. Dampak akibat Covid-19 sosial ekonomi dan keamanan mulai terasa ,pendekatan komprehensif
terus dilakukan.
Gambar 4. ODP,PDP dan Positif Kumulatif Covid-19 di Kota Jayapura
3. Kabupaten Jayapura
Gambar 5. Kabupaten Jayapura seiring angka ODP dan PDP penemuan kasus positif terus bertambah.
Angka postif kumulatif terus naik belum ada yang membentuk garis ke kanan . Kasus-kasus baru di
dapat dilakukan dengan meningkatkan pelacakan, pemeriksaaan RDT bahkan sekarang kabupaten
Jayapura telah melakukan sisir dari kampung ke kampung.Ada beberapa tempat diberi zona merah dan
dibatasi. Kabupaten Jayapura proses penularan covid masih berlangsung karena masih ditemukan
kasus baru.
Gambar 5. ODP,PDP dan Kumulatif Covid-19 di Kabupaten Jayapura
4. Kabupaten Mimika
Seiring naiknya ODP dan PDP ditemukan kasus baru Covid 19 di kabupaten Mimika seperti diperlihatkan
pada gambar 6. Kumulatif kasus positif terus naik dengan bertambahnya kasus baru. Kasus positif
kumulatif adalah penjumlahan kasus-kasus positif baru. Kabupaten Mimika ,grafik positif kumulatif
belum ada yang mendatar ke arah kanan artinya proses penularan Covid-19 sedang berlangsung.
Mimika sangat aktif mencari kasus dengan mencari index cases dari cluster maupun kasus transmisi
lokal. Pemeriksaan Rapid Test dalam jumlah besar dilakukan. Dengan test dan penemuan dini maka
ditemukan kasus-kasus tanpa gejala dan ringan. Pasien positif diobati dan diisolasi sehingga mereka
sembuh dan tidak menularkan lagi. Penularan juga terjadi di daerah Tembagapura daerah yang
terlokalisir yang perlu penanganan public health dengan deteksi dan pengobatan massive atau total
coverage.
Gambar 6. Trend ODP,PDP dan Kumulatif positif Covid-19 di Mimika
II. Trend Angka kasus harian atau mingguan
Untuk trend kasus harian diperlihatkan pada gambar 7 masih turun naik (fluktiatif). Kecederungan naik
mulai tanggal 4 April 2020. Data ini juga tergantung dari penemuan kasus dari kabupaten dan kota
tetapi juga banyak sampel yang dikonfirmasi dengan PCR. Keterlambatan terjadi karena keterbatasan
penerbangan sehingga memrlukan waktu untuk konfirmasi ke Jayapura (Litbangkes). Oleh karena itu
rencana provinsi akan membuat laboratorium PCR di Mimika dan Labkesda Jayapura masih menunggu
penambahan reagen . Mengaktifkan TCM yaitu alat gene expert untuk di operasikan di Wamena, Nabire
dan Merauke masih menunggu catridgenya. Selain itu mengaktifkan penyisiran lewat wajib periksa
dengan RDT. Kabupaten yang jauh pemeriksaan Rapid Test menjadi andalan untuk menjaring. Dari grafik
harian ini kita belum mendapatkan gambaran seperti grafik line seperti lonceng sehingga dapat
dikatakan penularan masih berlangsung. Angka kasus harian agak sulit ditampilkan karena rentang
waktu dibutuhkan pemeriksaan PCR. Sehingga perlu digambarkan secara mingguan.
Gambar 7. Grafik harian kasus positif Covid-19 di Papua
Jika kita lihat secara mingguan dengan menggabungkan kasus perhari , kita juga belum mendapatkan
grafik line yang seperti lonceng sehingga dikatakan penularan masih berlangsung dan juga kita belum
mendapatkan puncak kasus. Grafik mingguan diperlihatkan pada gambar 8. Total kasus perminggu
diperlihatkan pada tabel seperti minggu 16 sebanyak 41 kasus, minggu 17 sebanyak 36 kasus dan
minggu 18 sebanyak 96 kasus.
Gambar 8. Kasus mingguan Covid-19 di Papua
Gambar 9 adalah model grafik line dimana grafik tersebut menggambarkan kasus harian atau mingguan
harus berbentuk lonceng . Papua posisinya dimana ? masih berproses atau kira-kira di leher gunung
pada grafik itu. Penemuan kasus aktif sangat dibutuhkan. Menurut JP Morgan jika grafik masih dalam
posisi naik artinya penularan masih terjadi, kalau sudah menurun tapi di puncak artinya penularan baru
berkurang dan makin landai atau ke bawah hanya ada sedikit infeksi dan terjadi pemulihan. Sekali lagi
proses cepatnya pemulihan sangat tergantung kecepatan kita menemukan kasus Covid-19 (kita obati
dan isolasi) dan kecepatan pemeriksaan laboratorium RDT dan PCR. Selanjut Social Distancing, physical
distancing, wajib masker harus ditaati.
Papua
(harus active case findings)
Gambar 9. Grafik kasus baru : pertumbuhan infeksi, pemulihan Covid-19
Pada gambar yang terakhir Grafik 10, adalah gambar grafik negara Australia yang telah lebih dulu
memenangkan pertarungan melawan Covid-19 dan mendapatkan bentuk grafik seperti lonceng dengan
kasus perharinya. Mereka sudah banyak melakukan usaha memerangi Covid-19 adalah sistem Karatina
yang dari dulu sudah handal yaitu sistem pintu masuk ke negeri Kanguru yang super ketat dan
penutupan perbatasan dan lockdown 3 fase. Pengalaman saya di Australia negara ini masyarakatnya
sadar akan aturan yang diberi oleh pemerintah, selain itu masih banyak faktor lain yang berpengaruh
termasuk sumber daya mereka yang mumpuni. Di Australia membutuhkan waktu sekitar 1 bulan saja.
Ada beberapa negara yang juga berhasil seperti Vietnam ,Korea Selatan dan China. Negara-negara
sosialis ketaatan terhadap anjuran pemerintah lebih tinggi. Kebijakan –kebijakan pemerintah yang
tegas. Singapura menerapkan aturan-aturan yang tegas. Korban Covid-19 berjatuhan karena pengaruh
kepentingan politik seperti terjadi di Italia.
Gambar 10. Contoh Pemutusan rantai Penularan di Australia
III. Angka Kesembuhan
Angka kesembuhan sangat penting . Angka kesembuhan selalu digambarkan sebagai Success Rate.
Pada kasus Covid-19 kita harus menemukan sebanyak mungkin , kita obati dan isolasi dalam rangka
pemutusan rantai penularan.Test laboratorium sebanyak mungkin ini , apabila banyak yang negatif
artinya kita sudah bisa memberikan keamanan bagi masyarakat . Seorang teman mengatakan
“Jangan takut menemukan sebanyak mungkin yang penting tidak ada meninggal”. Ya benar sekali,
saat ini Papua menduduki urutan ke-2 angka kesembuhan setelah provinsi Bali. Penemuan kasus
sedini mungkin akan memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Masyarakat tidak boleh
takut/stigma untuk diperiksa sehingga dapat ditemukan dini. Pelacakan kasus/ Contact tracing dan
peluru Rapid Test yang diberikan jangan disimpan tetapi segera digunakan. Dengan memetakan
kasus zona merah ,kontak tracing dari kasus positif dan tempat –tempat umum misalnya di pasar
bisa menjadi target prioritas. Penyakit Virus dapat mudah sembuh sendiri (self limited disease).
WHO melaporkan 80% orang yang terpapar Covid-19 dapat sembuh tanpa intervensi khusus. Angka
kematian Covid-19 di Papua sudah 4 minggu tidak ada penambahan lagi oleh karena banyak kasus
dini ditemukan. 7 kasus kematian yang lalu karena keterlambatan serta mempunyai factor
komorbiditas yaitu lanjut usia, diabetes, obesitas, hipertensi & sakit jantung dan HIV/AIDS.
IV. Kecepatan (Speed)
Waktu sangat menentukan dalam penanganan Covid-19. Penularan Covid-19 begitu cepat, virus
lewat percikan air liur/droplet.Virus hanya dapat hidup pada manusia dan mempunyai kemampuan
bertahan hidup di udara, tanah dan benda-benda yang bersentuhan dalam waktu beberapa jam.
Banyak usaha untuk membatasinya seperti social distancing, physical distancing, masker bahkan
lockdown. Berapa negara telah berhasil mengatasi Covid-19. Penemuan dini sangat menentukan
prognosis dan mengurangi angka kematian. Dengan keterbatasan peralatan dan sumber daya
manusia di Papua , penting sekali kita temukan kasus tak bergejala dan ringan. Kalau sudah berat
biayanya sangat mahal.Kasus yang berat artinya sudah banyak orang ditularkannya. Kalau sudah
menggunakan ventilator sangat terlambat. Speed juga berarti bagaimana suplai logistic peralatan
kesehatan dan obat-obatan tersedia tepat pada waktunya dan kemampuan pemeriksaan
laboratorium Rapid Test masif memberikan kemampuan kita menapis kasus dengan cepat.
Tentunya kalau kita bisa menuntaskan masalah Covid-19 dengan cepat kita bisa menghemat biaya.
Oh ,banyak kerugian ekonomi yang hilang akibat Covid-19 ini. Banyak kerugian Sosial yang hilang
akibat menyebarnya penyakit (hilangnya silahturahmi, sekolah, ke kantor, beribadah).
Kesimpulan dan Saran
Dengan memahami trend penyakit Covid-19 , Papua masih dalam perjalanan proses menuju
pemutusan rantai penularan. 4 hal yang diperhatikan dalam trend penyakit ini adalah : Angka
Kumulatif kasus positif Covid-19, Angka harian atau mingguan kasus positif Covid-19, Angka
kesembuhan Covid-19 dan Kecepatan Penanganan. Dari 4 kabupaten /kota yang kasusnya besar di
Papua berdasarkan data trend hanya Merauke perkembangan kasus baru menurun sedangkan Kota
Jayapura, Kabupaten jayapura dan Kabupaten Mimika masih terus bertambah. Usaha-usaha
menemukan kasus sebanyak mungkin oleh kabupaten dan kota lewat pemeriksaan Rapid Test
masyarakat yang masif untuk memutuskan rantai penularan. Mengedepankan usaha pencegahan
yaitu social distancing, physical distancing, hygiene dan wajib masker. Ketaatan dan displin
masyarakat mengikuti anjuran-anjuran pemerintah. Pemerintah terus mendorong lewat kebijakan
yang telah dikeluarkan dan memonitor dampak social ekonomi pendidikan dan keamanan. Sistem
karantina pada dengan menutup pintu-pintu masuk atau membatasi mobilasasi penduduk. Pintu
strategis perlu diperhatikan seperti daerah Wamena karena akses daerah Lapago, Nabire menuju
Meepago, Timika menuju Meepago, Merauke menuju akses Animha serta Kota Jayapura adalah
ibukota /wajah Provinsi Papua. Kita perlu mempertahankan kabupaten yang belum ada kasus untuk
tetap tidak ada kasus, dan yang sudah ada kasus kita terus mencari memutuskan rantai
penularannya. Berakhir atau tidak nya Covid-19 Papua adalah tergantung dari kita yang ada di
Papua. Mari kita perangi terus Covid-19 mulai diri sendiri, keluarga, tetangga, kampung, distrik
dengan berpedoman 3 wajib (wajib periksa, wajib social distancing dan wajib masker) , yang kuat
menolong yang lemah , setiap stakeholder mengambil perannya masing-masing. Akhirnya, kalau kita
tidak bisa mengakhir perang ini melawan Covid-19 ,perang ini akan mengakhiri kita (if we don’t end
war, war will end us).
Ucapan trimaksih: drg Franciscus Thio, MPPM di Timika (staf World Bank) untuk sumbangan
pikirannya.
Penulis :
*Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua
**Dinkes Papua, mengajar di FKM/Kedokteran Uncen, Yapis,Port Numbai ,korespondensi
:arrypongtiku@ymail.com
*** Dinkes Papua, Epidemiolog, Lulusan St.Elizabeth University (Praha,Cekoslavakia)
**** Anggota Tim Data dan Info Covid-19 Papua

Facebook Comments
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *