Manajemen Persipura Galanita Tolikara Kembali Pertanyakan” Surat Komdis PSSI”

surat komdis PSSI Sudah melenceng dari aturan Main

Inti Persoalannya : Mengapa, PSSI Belum Mampu dan Profesional Dalam Menyelenggarakan Persepakbolaan Di Tanah Air setiap Pelenggaran yang terjadi Dilapangan Tidak Di pantau Kembali dalam Rekaman Ulang Masih ada Mafia terselebung yang di pakai?!

JAYAPURA,-(YOUTEFAPOST.COM),- Manajemen Persipura kembali pertanyakan surat keputusan dari Komisi Disiplin (Komdis) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terkait tim galanita Persipura Tolikara yang dinyatakan Kalah Walk Out (WO).

Sekertaris Umum Persipura Jayapura Rocky Bebena kepada wartawan mengatakan kemarin kita mendapat surat keputusan dari komdis PSSI bahwa kita dinyatakan WO pada semifinal leg kedua pada tanggal 7 Desember lalu di Biak.

“Dalam surat itu menyebutkan jika Persipura Tolikara melakukan tingkah laku buruk terhadap pertandingan dan tidak melanjutkan pertandingan dan menyelesaikan pertandingan dan dikenakan pasal 13 ayat 1 dan pasal 67 ayat 2 regulasi liga 1 putri. Untuk itu keputusan SK Komdis PSSI ini manajemen melihat bahwa ada beberapa poin yang perlu diajukan banding,” kata Rocky pada jumpa pers di Jayapura, Selasa malam , (17/12/2019).

Kemudian ada lima poin yang sudah di ajukan bahkan tadi kita sudah menyurat kepada PSSI yang juga kita tidak lanjuti dengan tembusan ke Exco, Asprov dan Kemenpora.

Dijelaskannya pengajuan banding kita berkaitan dengan surat keputusan Komdis PSSI yang keluar pada tanggal 13 Desember kemarin tapi kami baru terima pada tanggal 17 mengacu pada apa yang diputuskan oleh komdis pasal 13 ayat 1 hanya memuat tentang durasi pertandingan yaitu pertandingan kedua tim sudah menyelesaikan pertandingan dengan waktu 2x 45 menit dan berjalan aman tanpa gangguan apapun.

“Sedangkan pasal 67 ayat 2 itu dalal SK Komdis itu menyatakan bahwa tim persipura dikalahkan WO. Sementara pada pasal itu ada sedikit kesalahan tafsir dari Komdis yang jelas menyebutkan apabila ada kekeliruan Yang nyata sepanjang ikut kompetisi di semua seri tidak ada kekeliruan. Yang justru menurut kami adalah kekeliruan yang dibuat sewaktu tanggal 14 itu merubah fase semifinal yang harusnya di regulasi itu dihitung selisih gol tiba tiba harus dilanjutkan langsung dengan penalti,” tanya dia.

Penafsiran ini yang menurut kami tidak sesuai dengan yang tertera pada pasal 67 ayat 2 ini. Circular itu tidak kuat dalam dasar hukum dan regulasi Liga 1 Putri. Dan kedua sidang komdis PSSI yang menyebutkan persipura putri melakukan tingkah laku buruk ini seperti apa? Tidak ada tingkah laku buruk yang kami lakukan.

Kemudian fakta selanjutnya itu sebenarnya sudah dibahas pada saat MCM tentang dlanjutkan dengan adu penalti itu, tapi Match com tidak bisa menghentikan pertandingan, dan mereka meminta kami menyurat kepada PSSI, karena tugas mereka hanya melaporkan. “Melihat itu menurut kami surat yang dikeluarkan PSSI itu agak sedikit menimbulkan kecurigaan karena harusnya itu dilakukan sebelum semifinal leg pertama. Ini kan mencederai sportifitas dengan mengeluarkan regulasi baru karena paling tidak dibuat emergency meeting dengan mengundang empat peserta semifinal,” tegas dia.

Legitimasi itupun tidak boleh dirubah oleh sekjen PSSI karena regulasi itu dibuat oleh komite kompetisi yang punya wewenang mutlak untuk merubah regulasi atas dasar emergency meeting yang dihadiri oleh semua peserta kompetisi. Kalau bukan mereka nah bisa dilakukan oleh yang setingkat yang lebih tinggi atau exco yang juga punya kewanangan menyampaikan itu kepada tim dan bukan sekjen. Atau ketum PSSI yang mengeluarkan itu.

“Ini sangat melukai kami orang papua. Kami bukan karena meminta menjadi juara, masuk final atau lolos ke final tapi kami ingin minta bagaimana federasi itu bisa menegakkan regulasi yang sudah ada dan jangan dirubah-rubah di tengah jalan,”bebernya.

Kalau ini cuma satu leg saja dan dilanjutkan dengan adu penalti ya tidak masalah. Tapi ini kan dua laga dan tidak menghitung agregat gol. Penjual sayur dan para pedagang pun tahu regulasi itu. Kenapa dari awal tidak dibuat single match saja. Dari segi biaya pun lebih efisien. Dan tidak perlu kita membuang buang banyak biaya.

Kalaupun mereka akhirnya tidak mengesahkan agregat gol dan tetap dilanjutkan dengan adu penalti, oke kami ikut proses banding federasi dulu. Kalau banding ini tidak ditanggapi maka persoalan terakhirnya kita akan mengajukan gugatan ke pengadilan arbitrase internasional.

“Itu langkah yang akan kita lakukan, kalaupun gugatan kita juga ditolak oleh arbitrase maka kita akan terima secara fair. Tapi sepanjang kita lakukan ini kita melihat bahwa apa yang dilkaukan oleh PSSI sangat keliru. Dan saya sangat yakin ini ketum PSSI tidak tahu menahu soal ini. “Kita ingin sepak bola indonesia berubah tapi ada oknum oknum di dalam. Dan seorang sekjen tidak jeli melihat persoalan ini untuk di sharing lalu disampaikan kepada Ketua Umum PSSI,” tandasnya.

Ditanya terkait apakah sudah menjalin komunikasi dengan Ketua Umum PSSI Pusat Rocky mengaku, belum ada komunikasi dengan ketum PSSI, tapi tadi saya dihubungi untuk diminta komunikasi dengan ketum, tapi saya minta surat kita dijawab dulu.

Persoalannya pada tgl 7 Desember lalu sebelum laga itu tidak ada balasan terhadap surat protes kita, dan tiba tiba komdis memutuskan kita kalah WO dan PS. Tira Kabo yang lolos ke final. Seharusnya komdis memanggil kedua tim untuk meminta keterangan atau klarifikasi dari kedua tim.

Ia mencontohkan di tim putra kita itu diminta klarifikasi untuk menjatuhkan hukuman, ini ada apa kok tiba tiba langsung dinyatakan WO, terus kami juga dihubungi oleh manajer PS TIRA untuk ke PSSI dan berbincang bincang, ini seakan- akan sudah dilakukan komunikasi dengan PSSI baru dikeluarkan SK Komdis. “Ini pertanyaan besar karena tidak perlu kita berbicara dengan PSSI untuk mencari jalan keluar, ini bukan kasus pencurian yang bisa selesai dengan kekeluargaan, karena regulasi kompetisi sudah jelas. Ini liga 1, bukan liga Rukun Tetangga (RT), ataupun kampung, ini kasta tertinggi di republik ini untuk level wanita. Kami atas nama manajemen sangat kecewa dengan kondisi seperti,” ucapnya.

Manajer Tim Persipura Tolikara Usman Wanimbo menambahkan, sepakbola wanita ini baru bergulir jadi apa yang dilakukan oleh PSSI apakah memang dari induk sepakbola ini ataukah ada oknum atau kelompok orang.

“Ini jelas-jelas sudah mencederai sepak bola yang baru mau bertumbuh di level wanita. Dan ini merusak kepercayaan yang diberikan oleh negara ini kepada PSSI,” tegas Usman. Kita mau mengikuti aturan baku dari FIFA, tapi di tengah tengah ada sesuatu yang terjadi mendadak yang sebenarnya menyimpang dari aturan atau regulasi FIFA. “Kami minta kepada Menpora untuk melihat ini supaya ada dukungan terhadap sepak bola ataupun olahraga di Indonesia untuk bisa lebih baik,” tandasnya.

Sampai hari ini dimana mana tidak ada prestasi karena kelakuan seperti ini. Ini harus diberantas dan dibenahi, ini merusak klub-klub sepak bola indonesia.

“Tim yang kita berharap bisa ke level Asia maupun Dunia. Saya kecewa terhadap isi surat yang tidak benar dan relevan sama sekali dengan aturan PSSI maupun dan tidak mengacu kepada statuta FIFA atau induk federasi sepakbola Dunia,” urainya.

Sementara itu Asisten Manajer Persipura Tolikara Matihus Wally menambahkan Kami sangat berharap komite banding bisa bersikap lebih bijak lagi, dan lebih jeli lagi, karena kesan sepihak dan itu sudah kelihatan sekali dari keputusan ini. Dan merugikan kami, ini sebabnya Surat tersebut Sudah Melenceng dari aturan Main!!!

“Dan lebih lagi klausul tentang kelakuan buruk yang dilakukan oleh Persipura ini sangat merusak nama baik persipura, saya kira ini pencemaran nama baik bagi persipura dan kami bisa ajukan fakta hukum ini ke kasus yang berbeda,” tutupnya. (MG/LPM)
(EDITOR : SR)

Facebook Comments
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *