Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Pemda Provinsi Papua » Konsultasi Publik Rancangan Pengelolahan Jangka panjang dan Workshop Efektifitas (METT) Taman Nasional Lorentz DiSosialisasikan

Konsultasi Publik Rancangan Pengelolahan Jangka panjang dan Workshop Efektifitas (METT) Taman Nasional Lorentz DiSosialisasikan

(56 Views) November 25, 2019 11:55 am | Published by | No comment

JAYAPURA,(YOUTEFAPOST.COM), – Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Provinsi Papua Acha Anis Sokoy S.Hut kepada wartawan media online, mengungkapkan salah satu hal yang menjadi bahan pertimbangan dari pihaknya untuk merevisi/mereview rencana pengelolaan kawasan Taman Nasional Lorentz yakni terkait dengan pemekaran kabupaten, distrik dan juga kampong yang berada di sekitar area taman nasional ini.
“Salah satu yang menjadi pertimbangan kenapa harus kami merevisi/mereview rencana pengelolaan, karena kondisi eksisting kita tidak bisa menghindari yang namanya pembangunan strategis nasional yang tidak bisa dihindarkan. Dimana ada jalan, jembatan, pemukiman, ada pemekaran provinsi dan kabupaten, distrik dan kampong. Kita menyesuaikan dengan itu,”kata dia disela – sela kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode tahun 2020 – 2029 dan Workshop Penilaian efektifitas Pengelolaan (METT) Taman Nasional Lorents. Senin (25/11/2019) yang digelar bersama Pemprov Papua didukung USAID Lestari.
Namun ditegaskannya revisi/review ini akan tetap mempertimbangkan pembagian zona/zoning. Mana yang harus dilindungi dan mana yang bisa untuk pemanfaatan umum, mana yang pemanfaatan terbatas dan seterusnya. Kurang lebih dalam pemanfaatan keterbatasan dalam kawasan konservasi yang statusnya taman nasional.
Pasalnya saat ini ada 10 kabupaten yang berada didalam taman nasional Lorentz. Sebelumnya dalam RPJP awal hanya tujuh kabupaten yang menyentuh langsung dan tiga kabupaten adalah yang berbatasan.
“Tetapi dengan adanya perkembangan distrik dan seterusnya. Ternyata menjadi 10 kabupaten yakni Jayawijaya, Lani Jaya, Nduga, Yahukimo, Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Paniai. Sedangkan wilayah pesisir adalah kabupaten Asmat dan Mimika. 10 kabupaten ini berada di tiga wilayah adat yakni Meepago, Lapago dan Animha,”paparnya.
Tak Terpisahkan Dengan Orang Papua
Disisi lain dirinya mengakui dalam perjalanan pengelolaan kawasan Taman Nasional Lorentz ada perubahan. “Tentunya ada hal – hal yang diperlukan. Bahwa intinya adalah mengamankan property atau aset penting dalam taman nasional,”tukasnya.
Ditegaskannya Taman Nasional ini tidak terpisahkan dari nilai budaya jati diri orang Papua. Lorentz ini menjadi kebanggaan dunia, sehingga UNESCO menetapkan menjadi satu dari dua warisan dunia di Tanah Papua.
“Lorentz terlebih dahulu tahun 1999 dan kemudian tahun 2012 adalah noken, sehingga menjadi dua situs warisan dunia yang diakui.
NIlai pentingnya adalah bahwa ini adalah kawasan yang paling lengkap di Asia Pasifik bahkan untuk di dunia satu dari tiga yang punya salju/geisler di wilayah tropis. Dimana satu di Kilimanjaro, Afrika dan Andes, Peru di Amerika Latin dan yang ketiga adalah di Papua,Indonesia,”jelasnya.
“Ini adalah karunia Tuhan yang luar biasa, sehingga itu adalah property nilai penting yang memang dijaga, dilestarikan,”imbuhnya.
Lanjutnya upaya strategis untuk jangka waktu 10 tahun kedepan mulai tahun 2020 – 2029, maka hari ini Balai Taman Nasional Lorentz
sudah menyusun beberapa program, rencana, target dan seterusnya. Kemudian pihak yang terlibat. Termasuk juga anggaran biaya dalam 10 tahun akan dikonsultasikan dalam kegiatan yang berlangsung selama 4 hari ini.
“Mungkin ada masukkan dari Pemda, LSM, Perguruan Tinggi dan juga tokoh Masyarakat yang hadir. Kira – kira kita hendak berbuat apa.
Nantinya akan dilakukan penilaian terhadap efektifitas karena salah satu tujuan dari RPJP adalah untuk menentukan efektif tidaknya pengelolaan ini,”terangnya.
Pasalnya pada jangka waktu sebelumnya tahun 2010 – 2029 selama 20 tahun. Namun dalam arahan kebijakan peraturan yang terbaru bahwa yang dulunya 20 tahunan menjadi 10 tahun saja.
“Mengapa demikian, kita tau bersama bahwa mulai tahun 2014 tidak ada visi misi kementerian. Pak Presiden kemarin pada saat pelantikan beliau berulang kali mengatakan tidak ada visi misi kementerian, yang ada hanyalah visi misi presiden,”ungkapnya.
Selain itu juga kalau 20 tahun nantinya terlalu lama paling tidak RPJM hanya 5 tahun dan RPJP selama 10 tahun. Sehingga pihaknya melakukan penyesuaian ke arah visi misi supaya targetnya jelas.
Peran Pemprov Papua
Sebelumnya Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Pemerintahan dan Politik Simeon Itlay yang mewakili Gubernur Papua mengatakan visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur adalah Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera yang berkeadilan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Lorentz dan USAID Lestari ini merupakan penjabaran dari kebijakan gubernur Papua yang implementasinya saat ini sedang dilaksanakan. Kemudian yang paling penting adalah dirinya baru saja mendapatkan masukkan bahwa kebudayaan asli Papua dimana taman nasional Lorentz itu masuk dalam warisan dunia yang merupakan warisan leluhur Papua kemudian noken.
“Ada dua warisan dunia yakni Noken dan Taman Nasional Lorentz . Ini juga adalah penjabaran dari pembagian lima wilayah adat yakni Mamta, Animha, Saireri, Lapago dan Meepago,”kata Simeon.
Dari sambutan Gubernur Papua, kata Simeon sudah sangat jelas bahwa selain mengembangkan dan melestarikan semua ekosistem yang ada di Lorentz. Terpenting adalah taman nasional ini mencerminkan symbol identitas manusia Papua.
“Dengan demikian gubernur punya komitmen tinggi untuk mengembangkan dan melestarikan sebagai warisan dunia. Bukan hanya dari gubernur Papua saja, akan tetapi di tingkat nasional juga terlibat langsung sebagai aset nasional dan juga warisan dunia,”pungkasnya.(Redaksi Youtefapost.com)

Facebook Comments
0Shares
Categorised in:

No comment for Konsultasi Publik Rancangan Pengelolahan Jangka panjang dan Workshop Efektifitas (METT) Taman Nasional Lorentz DiSosialisasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *