Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » ADAT DAN SEJARAH GEREJA » Otsus Papua dan Isu-isu Papua Merdeka adalah Ilusi Kekuasaan Yang Merampas Masa Depan Generasi Muda Orang Papua Di Tanahnya Sendiri

Otsus Papua dan Isu-isu Papua Merdeka adalah Ilusi Kekuasaan Yang Merampas Masa Depan Generasi Muda Orang Papua Di Tanahnya Sendiri

(290 Views) Mei 30, 2019 3:13 am | Published by | No comment

JAYAPURA,,(YOUTEFAPOST.COM),- Banyaknya orang asli Papua yang tidak terpilih dalam Pemilu Legislatif 2019 untuk duduk di kursi Parlemen lokal di Papua, sudah diprediksikan sebelumnya. Seperti ketika seleksi CPNS Universitas Cenderawasih ( Uncen ) beberapa bulan lalu yang menerapkan sistem online dan terbuka untuk umum, banyak anak asli Papua yang sudah menjadi tenaga honorer di Uncen tidak lulus dalam seleksi. Sebagian besar tenaga dosen yang lulus, bukan orang asli Papua. Uncen yang menjadi simbol kualitas dan kompetensi orang asli Papua saja sudah kalah saing, apalagi persaingan rebutan lapangan kerja pada bidang yang lain di luar Uncen, termasuk rebutan kursi dewan yang sangat menggiurkan karena bisa menciptakan orang kaya baru nan mewah hidupnya. Pasti orang asli Papua tersisihkan dan tidak mendapat kesempatan.
Kursi Dewan bukan lagi tempat orang mengabdi, tapi tempat mencari makan dan memperkaya diri. Takdir manusia sebagai mahkluk ekonomi yang memiliki kencendurangan untuk terus meningkatkan pendapatan kekayaannya, akan selalu memanfaatkan dengan baik setiap peluang atau akses kekuasaan yang dimilikinya. Memiliki akses atau pintu ke kursi kekuasaan anggota Dewan dalam Demokrasi liberal, ada prasyaratnya yang harus dipenuhi oleh setiap politisi atau individu. Banyaknya caleg orang asli Papua kalah dalam rebutan kursi kekuasaan legislatif karena mereka telah kehilangan akses ke kursi kuasaan sejak dari tahapan awal pelaksanaan Pemilu. Apa penyebab mereka kehilangan akses ke kursi kekuasaan ?. Mereka terlalu percaya dan mengkultuskas Otsus Papua akan memproteksi hak politik mereka. Mereka juga didriving pikiran mereka dengan narasi – narasi isu Papua Merdeka yang akan menjamin kekuasaan politik yang jauh lebih besar yang akan dimiliki dan dinikmatinya.

Tidak salah mengharapkan ” kekuatan jimat ” Otsus Papua dan isu Papua Merdeka sebagai jaminan hak politik orang asli Papua. Tetapi dalam era Globalisasi yang didominasi oleh sistem Kapitalisme, Otsus Papua dan isu Papua Merdeka hanyalah ILUSI KEKUASAAN yang akan MERAMPAS masa depan generasi muda Papua. Otsus Papua dan isu Papua Merdeka tidak bisa lagi memproteksi hak politik orang asli Papua dari arus Globalisasi. YANG BISA MEMPROTEKSI ORANG ASLI PAPUA DALAM ERA GLOBALISASI HANYALAH KOMPETENSI / SKILL dan KAPITAL / MODAL yang dimiliki secara PRIBADI..!!!
Kompetensi didapat melalui pendidikan dan pengalaman. Kapital didapat dengan kerja keras yang didukung dengan skill atau kompetensi. Dengan memiliki kompotensi dan kapital, akses ke kursi kekuasaan dengan mudah diperoleh.

Orang non Papua awal datang ke Papua, tanpa kompetensi dan kapital / modal. Target awal mereka menguasai bidang ekonomi Papua utk mendapatkan kapital. Dengan etos kerja yang ulet dan terus bekerja keras di tanah – tanah transmigrasi, di emperan – emperan toko, di pinggiran – pinggiran jalan kaki lima, berjalan kaki jualan keliling dari rumah ke rumah, pintu ke pintu, merebut setiap peluang ekonomi mikro Papua, membuat sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan kapital / modal mereka. Ketika kapital dianggap sudah cukup untuk mengejar kompetensi mereka, mereka langsung bertindak untuk sekolah demi mendapatkan kompotensi / skill mereka. Setelah memiliki kompotensi dan modal, sistem kekuasaan di Indonesia berubah dari Otoriter ke Demokrasi Liberal, memberikan ruang yang lebar buat mereka untuk mengakses kursi kekuasaan politik di Papua. Meskipun ada Otsus Papua tetapi orang asli Papua lupa bahwa Demokrasi Liberal yang menjadi roh yang menghidupkan proses politik dan Pemilu di Indonesia, telah menempatkan UANG / MODAL sebagai RAJA. Siapa yang punya modal, dialah yang akan menentukan hasil akhir sebuah proses politik kekuasaan dalam sistem Demokrasi Liberal. Tanpa modal / uang dalam Demokrasi Liberal, keterlibatan langsung seseorang dalam perebutan kursi kekuasaan di Pemilu hanya upaya menjaring angin.

Pemilu dalam Demokrasi Liberal akan selalu memakan korban. Mereka yang menjadi korban politik Pemilu karena tidak punya modal. Sebagian besar Caleg orang asli Papua menjadi korban politik dalam Pemilu Legislatif 2019 karena tidak punya modal atau uang. Kursi anggota Dewan itu mahal dan rakyat pemilik mandat kekuasaan tidak mau menyerahkan mandat kursi kekuasaan dengan gratis. Pemilu sudah terkontaminasi aturan baku pasar ” ada uang ada barang “. Mantra – mantra Otsus Papua ” Menjadi tuan di negeri sendiri…keperpihakan, proteksi dan pemberdayaan…Save hak kesulungan politik..dan sebagainya ” tidak mempan mempengaruhi rakyat Papua menentukan pilihan politik. Tidak mampu lagi menyelamatkan hak politik orang asli Papua.

Demikian juga mantra – mantra isu Papua Merdeka “..Free West Papua..Fight to Freedom..Papua for Referendum..dan seterusnya ” untuk situasi sekarang masih mendapat tempat di hati dan pikiran generasi muda Papua. Masih menjadi modal sosial dan politik bagi perjuangan generasi muda Papua untuk mempertahankan eksistensi hak politik orang asli Papua. Tetapi sampai kapan mantra – mantra isu Papua Merdeka dapat melindungi dan mempertahankan hak politik orang asli Papua ?. Apakah sampai seluruh kursi parlemen lokal dari Kabupaten sampai Provinsi tidak ada lagi orang rambut keriting duduk disana ?. Atau sampai seluruh kursi kepala daerah dikuasai orang non Papua ?. Pileg 2019 ini harus menjadi cerminan dan bahan refleksi diri orang asli Papua bahwa situasi sosial politik dan ekonomi Papua saat ini sudah jauh berbeda dengan situasi Papua sepuluh atau dua puluh tahun lalu yang orang non Papua berpikir dua kali untuk berniat merebut hak politik orang asli Papua. Dengan memiliki kompetensi yang memadai dan nilai kapital yang dimiliki cukup besar membuat kursi caleg Partai mereka beli, lalu suara rakyat mereka beli, kursi kekuasaan mereka rebut. Otsus Papua memerintahkan Partai Politik untuk meminta persetujuan dan pertimbangan Majelis Rakyat Papua ( MRP ) dalam rekruitmen politik, tidak dipatuhi dan diindahkan Partai karena Partai Politik lebih tunduk dan patuh kepada UANG dalam Demokrasi Liberal di bandingkan pasal – pasal Otsus Papua yang tidak produktif menghasilkan UANG bagi Partai bahkan berpotensi ” membunuh ” perkembangan Partai Politik di Papua.

Generasi muda Papua korbankan banyak waktunya yang seharusnya digunakan untuk menghisap debu buku di bangku studi, dihabiskan
waktu berharganya untuk menghisap debu jalanan demi isu Papua Merdeka. Akibatnya kompetensi dan kapabilitas generasi muda Papua tertinggal jauh dari generasi muda non Papua. Sudah kehilangan kesempatan mengembangkan kompetensi diri, sudah tentu akan kehilangan kesempatan mendapatkan kapital atau modal yang cukup untuk merebutkan kursi kekuasaan dalam era Globalisasi dewasa ini. Sudah saatnya generasi muda Papua keluar dari jebakan ilusi kekuasaan Otsus Papua dan isu Papua Merdeka. Sebagai seorang akademisi Papua, saya tegaskan sekali lagi yang bisa memproteksi hak politik dan hak ekonomi orang asli Papua dalam situasi Papua yang dilanda bencana Globalisasi saat ini adalah kompetensi / skill pribadi dan kapital / modal pribadi atau koorporasi. Bukan Otsus Papua dan isu Papua Merdeka. Kesuksesan dalam hidup dan dalam pertarungan merebut peluang kerja di bidang politik dan bidang – bidang lainnya di era Globalisasi, ditentukan oleh diri kita masing – masing. Tidak ditentukan oleh adanya Otsus Papua atau isu Papua Merdeka. Tendang keluar dari otak kita kesesatan mindset / pola pikir bahwa Otsus Papua dan isu Papua Merdeka itu mesias atau penyelamat hak politik orang asli Papua. Hasil Pileg 2019 sudah harus jadi teguran keras buat kita yang mengambil pilihan yang keliru selama ini. Kalau tidak segera melakukannya, orang asli Papua akan menjadi budak di tanah sendiri pada tahun 2020 ke atas. Tinggal menunggu waktu saja menjadi bangsa budak dan budak di tanah sendiri yang kaya akan susu dan madunya.(***)

Selamat pagi bumi Port Numbay Dan Selamat Merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus Ke Sorga, serta
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Muslim yang sedang berpuasa…( Penulis : Orang Pinggiran Dikota Jayapura)

Facebook Comments
0Shares
Categorised in:

No comment for Otsus Papua dan Isu-isu Papua Merdeka adalah Ilusi Kekuasaan Yang Merampas Masa Depan Generasi Muda Orang Papua Di Tanahnya Sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *