Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel dan kuliner » Octaviyanti Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua Inspirator Kartini Milenial

Octaviyanti Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua Inspirator Kartini Milenial

(361 Views) April 22, 2019 1:10 pm | Published by | No comment

Perempuan Biak Pertama yang jadi Pilot pesawat[/caption]

Banyak Kartini di Papua, satu di antaranya adalah Octaviyanti Blandina Ronsumbre. Wanita ini menjadi penerbang menginspirasi kebangkitan Kartini-kartini milenial di bumi Cenderawasih.

Tidak banyak perempuan yang berprofesi menjadi pilot karena profesi ini indentik dengan kaum pria. Namun bagi Octaviyanti Blandina Ronsumbre, namanya telah tercatat dalam sejarah sebagai wanita asli Papua pertama yang menjadi pilot.

Bersama sang kakak yang juga seorang pilot
Kehebatan Octaviyanti ini bisa menjadi inspirasi untuk kebangkitan Kartini-kartini di provinsi paling timur Indonesia.

Ibu muda berusia 31 tahun ini telah malang melintang hampir 5 tahun melanglang dirgantara tanah air menerbangkan berbagai jenis pesawat.

Octaviyanti Blandina Ronsumbre yang akrab disapa Vivin ini telah menerbangkan pesawat jenis Boeing 737 seri 300/400/500 dengan jam terbang sekitar 4.000 jam itu.

Ia adalah putri ketiga dari pasangan Yakobus Ronsumbre putra asli Papua dan ibunya Susilowati perempuan berdarah Jawa. Kakak pertama atau sulungnya, Yonnas N Rosumbre juga adalah pilot di PT Garuda Indonesia.

Menempuh pendidikan dasar sampai sekolah menengah atas di Biak. Menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Kota Biak 1994-2000. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kota Biak 2000-2003, dan SMA Negeri 1 Kota Biak pada 2003-2006.

Kini wanita kelahiran Biak, 30 Oktober 1988 itu menjadi salah satu pilot di Maskapai Trigana Air dan telah mengantongi ribuan jam terbang.

Kesan pertama sosok dari ibu anak satu itu cukup ramah dan bersahabat kepada siapa saja. Ibu dari Dirgantara Ronsumbre dan istri dari Agustinus Sujatmiko ini mengaku tak menyangka jika jalan hidupnya akan menjadi seorang wanita yang mengawaki pesawat terbang.

Takdir tersebut dimulai ketika Vivin berhasil lulus seleksi untuk ikut pendidikan sekolah penerbang Nusa Flying International Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Bahkan Vivin berhasil menamatkan pendidikan penerbangan dengan predikat baik pada 2010-2011.

“Saya lulus penerbang Mei 2011,” ujarnya mengawali percakapan.

Octaviyanti Blandina Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua
Meski kini berprofesi sebagai pilot, namun ternyata cita-citanya sejak kecil sebenarnya menjadi pramugari.

Begitu mengidolakan pada profesi pramugari, kalau ada kegiatan karnaval pada masa sekolah, ia nyaris selalu mengenakan kostum pramugari. “Bahkan saking kepincutnya jadi pramugari, setiap ada kegiatan karnaval saat duduk di bangku SD, SMP, SMA, saya selalu mengenakan busana pramugari,” kisahnya.

Namun saat mendaftar pramugari, ia ditolak karena tinggi badannya tidak memenuhi syarat, kurang dua sentimeter. “Karena tinggi badan saya hanya 158 sentimeter, sedangkan standarnya tinggi badan seorang pramugari minimal 160 sentimeter. Lantas kemudian ikut tes pilot,” tuturnya

Ia kemudian mendapat dorongan dan motivasi dari kakaknya yang seorang pilot untuk masuk sekolah penerbang. Ia mengikuti saran kakaknya, dan ternyata lulus.

“Setelah gagal tes menjadi pramugari, kakak saya yang kebetulan pilot, mendorong untuk ikut tes penerbang, ternyata lulus,” ucapnya.

Setelah lulus menjadi seorang penerbang, Oktober 2011, Vivin kemudian menjadi pilot dengan jabatan first officer di PT Trigana Air.

Pengalaman pertama kali ia rasakan ketika dipercaya menerbangkan burung besi jenis pesawat kargo di tahun 2012-2013. Kemudian baru pada tahun 2015 dipercaya membawa pesawat penumpang.

Mendapat Penyematan sebagai seorang Pilot oleh Pilot senior PT Trigana
Vivin mampu mendarat mulus dengan pesawat pertamanya di Bandara Papua. Pertama bisa menerbangkan pesawat ia sungguh terharu hingga air matanya mengalir.

Pengalamannya itu membuatnya percaya bahwa tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, siapa pun perempuan, berasal dari mana pun bisa menjadi apa saja. “Campur aduk itulah perasaan pertama saat menerbangkan pesawat, bahkan sampai menangis ternyata bisa juga menjadi pilot,” ujar Vivin.

Ia juga sempat mengungkapkan pengalamannya yang paling berkesan saat menerbangkan pesawat, yakni bisa mengajak keluarganya terbang bersama.

Vivin yang kini menjadi salah satu pilot PT Trigana Air mengungkapkan, terbang di Papua lebih banyak tantangannya karena cuaca daerah pegunungan di sana sangat ekstrem dan terkadang sulit diprediksi.

“Terbang di udara Papua itu penuh tantangan, yang menuntut konsentrasi penuh,” kata Vivin yang juga pernah terbang di wilayah Jawa dan Kalimantan.

Sebelum berprofesi sebagai pilot, Vivin sempat pernah mencicipi mengabdi sebagai karyawan di PT Gapura Angkasa Cabang Biak.

Kepada kaum perempuan Vivin menitipkan pesan bahwa sosok Kartini adalah salah satu wanita yang menginspirasi setiap kaum perempuan untuk berkarya. Ia juga mengaku mengidolakan Kartini, yang menurutnya merupakan bukti bahwa perempuan juga bisa berkarya besar.

Kepada perempuan-perempuan Papua, Vivin memberikan dorongan untuk terus maju.

“Pesan saya bagi perempuan Papua, tidak ada yang tidak mungkin, selama ada niat pasti ada jalan. Semua wanita bisa jadi pilot, selama kita mau berusaha,” tutupnya.

Semoga semangat Vivin menjadi tonggak awal lahirnya Kartini-kartini di Bumi Cenderawasih. (Edi Winarto)

Facebook Comments
0Shares
Categorised in:

No comment for Octaviyanti Ronsumbre Pilot Wanita Asal Papua Inspirator Kartini Milenial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *