Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » ADAT DAN SEJARAH GEREJA » Mengenang Kembali Kedua Rasul Tokoh Pekabaran Injil DiTanah Papua OTTOW dan GEISLER 1855

Mengenang Kembali Kedua Rasul Tokoh Pekabaran Injil DiTanah Papua OTTOW dan GEISLER 1855

(255 Views) Februari 4, 2019 10:15 am | Published by | No comment

TOKOH PEKABARAN INJIL DITANAH PAPUA”C.W OTTOW DAN J.G GEISLER: RASUL” 1855

OK

FOTO OTTOW DAN GEISLER

ok

Tampak situs sejarah Pekabaran Injil di Pulau mansinam dan Gereja Tua GKI Harapan Abepura Dan Guru Pengginjil Papua Pertama Guru Wiliam Rumainum

 

 

 

Johann G. Geisler: dilahirkan pada tanggal 18 Pebruari 1830 di Langen-Reichenbach, Jerman. Ayahnya seorang penjahit, anggota gereja Lutheran yang aktif, dan ia pun mengusahakan agar anak-anaknya untuk bisa bersekolah. Dalam tahun itu juga ayahnya membawanya ke Berlin. Geisler secara teratur pergi ke gereja dan mengunjungi semacam sekolah minggu untuk orang dewasa. Di atas pintu bangunan sekolah itu tertulis “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil”. Geisler langsung terkesan oleh kata-kata ini. Di sana ia diterima dengan ramah oleh sekelompok besar anak-anak muda, para calon zendeling yang memimpin kumpulan-kumpulan doa yang diadakan di situ.

 

Pada suatu malam, mereka mengadakan pertemuan, yang di dalamnya dibacakan surat-surat dari para zendeling. Surat-surat itu sangat menarik perhatian Geisler. Lebih dulu dari Carl Ottow, Geisler Geissler menyadari bahwa percaya kepada Kristus adalah akibat dari pemilihan (predestinas). Meskipun berada di tengah suatu kelompok pemuda yang saleh, Geisler tidak menjauhkan diri dari masyarakat, sebagaimana yang dilakukan Ottow dan ibunya.

 

Malam Tahun Baru 1849-1850 disebut oleh Geisler, yang masih berumur 19 tahun, sebagai malam yang sangat penting: “Mataku mulai terbuka waktu itu dan Roh Kudus bekerja dalam hatiku.” Ia memohon dalam doanya untuk menjadi seorang Kristen yang benar dan Sang Gembala menerimanya di dalam kasihNya. Pada waktu ia sedang memikirkan hal ini, dengan cara bagaimana ia bisa menjadi milik Kristus, tiba-tiba muncullah zending di depan matanya. Mengenai ini ia mengatakan: “Dan Tuhan pun memberikan anugerah-Nya kepadaku untuk berdoa bagi orang-orang kafir yang malang itu“. Ia kemudian berpikir untuk mencalonkan diri pada zending, tetapi ia merasa dirinya tidak layak untuk itu.

 

Dengan caranya sendiri, ia pun berusaha menabung agar dapat memberi sumbangan kepada pekerjaan misi. Setelah ia diterima sebagai pembantu tukang dan menerima gaji, dia memutuskan untuk memberikan sepertiga dari gajinya untuk zending, sepertiga lagi untuk orang miskin & orang yang berkekurangan, lalu sisanya untuk dirinya sendiri.

 

Pada tanggal 14 Agustus 1851, saat Geisler berumur 21 tahun, dalam suatu pesta zending, ia mendengarkan khotbah mengenai nats “Pergilah ke seluruh dunia”. Setelah mendengarkan kotbah tersebut, ia pun tidak ragu-ragu lagi bahwa pesan ini ditujukan kepadanya. Keraguannya mengenai pengetahuan, pengertian, dan kepercayaannya terhapus oleh kata-kata di dalam nats itu: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” (Matius 28:18)

 

Geisler berjumpa dengan Gossner pada suatu “perkumpulan pembinaan”, yang diadakan oleh Gossner untuk para calon zendelingnya. Kemudian Gossner bertanya, “Apakah Anda tak tertarik juga untuk melakukan pekerjaan zending?” Atas pertanyaan tersebut, Geisler menjawab “ya” dengan lantang, tetapi Johan menambahkan, bahwa ia tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi zendeling. Gossner menjawab bahwa ia hanya harus tekun berdoa, karena Tuhan pasti menemukan jalan keluarnya. Setelah beberapa kali berkomunikasi, Gossner menetapkan untuk tidak melepaskan Geisler yang masih muda itu. Ia mengundang Geisler untuk datang menemuinya seminggu kemudian dengan membawa riwayat hidup singkat. Gossner merasa bahwa Geisler memang cocok untuk menjadi zending. Selanjutnya ia memerintahkan agar Geissler mempelajari bahasa Inggris.

 

Mengetahui keputusan Geisler, banyak orang di sekitarnya justru memperolok-oloknya, namun Geisler tidak memedulikannya. Yang terpenting dalam hidupnya adalah mendapat izin dari orang tuanya. Setelah orang tuanya mengizinkannya, Geisler merasa lega.

 

Tanggal 27 Oktober 1851, Johann Geissler diterima di rumah Gossner. Di sana, dengan terus berdoa, ia membaktikan diri untuk mendalami Sabda Tuhan dan pelajaran-pelajaran selanjutnya. Sebagai calon zendeling, pada siang hari mereka melakukan pekerjaan tukang atau kegiatan-kegiatan yang lain, dan malam hari mereka mendapat pelajaran.

 

Lalu, pada tahun 1852, ia ditahbiskan untuk melakukan pekerjaan zending. Segera sesudah itu, ia menuju ke Indonesia.

 

Carl W. Ottow. Aneh sekali bahwa di dalam literatur zending dari tahun-tahun kemudian Ottow hampir tidak pernah disinggung. Hanya namanya saja yang disebutkan, padahal ia tidak kurang pentingnya dari Geissler. Ottow-lah yang di tahun-tahun pertama, sampai kematiannya di tahun 1862, melakukan pekerjaan terbanyak. Mengenai kehidupannya sebelum ia berangkat ke Irian Barat hanya sedikit yang tercatat, dan catatan-catatan ini terutama mengisahkan kehidupan imannya, seperti lazimnya pada waktu itu. Ia bekerja sebagai pembuat layar kapal. Di dalam catatan biografinya, yang biasa diminta oleh Gossner kepada semua calon zendelingtukang, ditekankan hanya keyakinan imannya. Memang inilah dasar dapat tidaknya mereka diterima, demikian juga praktek Heldring. Jadi untuk mengetahui mengenai Ottow ini, orang harus pandai membaca yang tersirat di dalam yang tersurat; kepribadiannya kemudian jelas terlihat dari surat-suratnya, di mana ia menulis mengenai pekerjaannya.

 

Carl Ottow dilahirkan di tahun 1826. Tempat lahirnya tidak disebut. Hanya ditekankan bahwa ibunya orang yang saleh, yang setiap pagi dan petang bersama dengan anak-anaknya berlutut dan berdoa; ia selalu memperingatkan mereka, dan “mendidik mereka ini menjadi orang yang baik”. Ibu ini di dalam keluarga Ottow ternyata merupakan penentu dalam kehidupan rohani, karena ayah serta keluarga lainnya tidak beriman. Posisi ibu yang sangat dominan ini terutama terlihat di dalam pengawasannya yang ketat dalam mendidik anak-anaknya. “Anak-anaknya tidak akan mengenal rupa dunia ini yang mempesona dan menarik hati. Si ibu mencegah anak-anaknya mengenal godaan-godaan dunia ini”. Anak-anak diwajibkan pergi ke gereja setiap hari Minggu, tetapi. baru pada usia 18 tahun, oleh pemberitaan seorang pendeta, Ottow mulai tertarik hatinya, hingga sejak itu timbul keinginannya untuk menyebarkan ajaran Kristen di antara orang-orang kafir.

 

Ottow mulai tergugah minatnya. Tetapi ia masih akan “menjalani gemblengan selama kira-kira 7 tahun lagi dalam pendidikan oleh Tuhan, melalui banyak pergumulan yang berat, ke luar maupun ke dalam”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah pergumulan dengan ayah dan keluarga. Tetapi dari pihak ibunya pun ada keberatan-keberatan juga, “karena Carl banyak membantu dirinya dalam hal-hal jasmani maupun rohani”.

 

Selama bertahun-tahun Carl tetap bertahan dengan doa-doanya; ia pun berhubungan dengan Gossner, kepada Gossner ia menceritakan kesulitan-kesulitannya. Tetapi ia tidak mendapatkan dukungan yang ia harapkan dari Gossner, dan tidak pula mendapat nasihat untuk jika perlu pergi ke daerah-daerah zending dengan melawan orang tuanya. Gossner yang tua itu menulis secara tegas kepadanya: “Kalau orang tua anda berkeberatan, saya pun tidak, sekali lagi saya pun tidak akan menerima anda”.

 

Tolakan yang tegas ini tidak dapat membuat Carl melepaskan begitu saja keinginannya. Dengan penuh ketabahan ia melakukan “pekerjaan zending” di lingkungan sendiri. Siang hari ia bekerja membuat layar kapal, malam hari dan pada hari Minggu ia berkeliling. Ia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang yang membutuhkan bantuan; ia berhasil antara lain mengembalikan seorang pelacur yang sakit kepada jalan Tuhan, dan di rumah pada hari Minggu ia mulai membentuk kelompok penelaahan Alkitab, yang dengan segera mendapat sejumlah peserta. Ruparupanya ia mampu meyakinkan ayahnya dan saudara-saudaranya, dan membuat mereka terkesan, karena sikap ayahnya akhirnya berubah sedemikian rupa, hingga kemudian si ayah memimpin sendiri doa sebelum makan, yang dilakukannya sambil berdiri. Pada salah satu pertemuan di rumahnya Carl Ottow jatuh pingsan, “jatuh seolah-olah orang mati”. Peristiwa ini membuat orang tuanya berpikir, bahwa jika anaknya dilarang melakukan pekerjaan zending, Tuhan dapat mengambil nyawanya. “Maka itu, sekalipun dengan hati yang berat, mereka pun mengijinkannya pergi”.

 

Sekilas Pelayanan di Papua.

 

Penduduk  asli dari Papua adalah Melanesia. Asal usul suku bangsa ini masih menjadi perdebatan. Orang-orang papu memiliki lebih dari 250 bahasa yang berbeda. Di dalam agama asli, mereka sangat menghargai binatang babi. Secara tradisional mereka percaya bahwa babi adalah seorang pahlawan penyelamat yang mengorbankkan dirinya untuk menyediakan dirinya sebagai makanan demi kelangsungan hidup umat manusia (orang papua). Papua adalah tempat yang kaya barang tambang seperti tembaga, emas, minyak, dan nikel. Pada tahun 1967 sebuah perusahaan Amerika, Freeport McRohan membangun tambang tembaga dan emas yang terbesar di dunia di Amungme dekat Timika.

 

Tidak ada bukti yang konkrit tentang misi Kristen ke tanah Papua sebelum abad 19. Bagaimanapun, Kekristenan di Indonesia bagian timur mungkin secara tida lansung mempengarui agama di Papua. Pada tahun 1855-1898, maka Injil masuk pertama kalinya dengan insiatif dari missionaris asal Jerman: Geisleres Evangelist Gossner (1733-1858). Dia didukung oleh pelayan Tuhan asal Belanda: Otto G. Heldring. Keduanya memiliki beban yan sama untuk misi ke tanah Papua. Mereka mempersiapan orang-orang untuk menjadi pelayan di sana. Bukan kebetulan Carl Ottow dan Johan Geissler ada di bawah asuhan mereka. Kedua anak asuhan mereka: Ottow dan Geissler tiba di tanah Papua pada hari Minggu, 5 Februari 1855 di Mansinam, sebuah pulau kecil dekat Manokwari dengan bermodalkan bahasa Numfor. Mereka berlutut di pantai dan berdoa untuk mengklaim seluruh tanah Papua hanyalah bagi Kristus. Demikianlah nantinya tanah Papua menjadi tanah Kristen. Pelayananan didukung secara finansial oleh pemerintahan Belanda.

 

Sebagaimana di tempat-tempat lain, pada dasarnya manusia resisten terhadap perubahan. Pada 1880, 25 tahun setelah pionir menginjakkan kaki di Papua, hanya 20 orang yang telah dibaptis, termasuk anak-anak Papua yang diadopsi oleh para missionaris.

 

Ketika para missionaris tersebut melayani, masyarakat Papua didominasi oleh ketakutan akan roh-roh kematian dan segala jenis ilmu gaib. Ketika mereka mendengarkan tentang Injil, maka mereka mendengar berita sukacita tentang Kristus yang membebaskan mereka dari segala kekuatan dan ketakutan karena Kristus adalah lebih besar dan berkuasa sehingga dapat melindungi orang-orang yang adalah milik-Nya. Baru 10 tahun kemudian, pada 1890 Mansinam memiliki 42 anggota, 44 menerima baptisan anak, sekolah-sekolah yang didirikan dihadiri oleh 60 murid, kemudian ada 32 murid katekisasi. Pada tahun 1892, missionaris mengutus murid-murid putera daerah: Petrus Kafiar dan Timotheus Awendu ke Depok Seminari untuk dididik menjadi missionaris tanah Papua. Pada akhir 1920, Pamai, seorang putera daerah asal Ormu, bagian barat Jayapura, membawa Injil kepada masyarakat di Sentani. Meskipun seorang yang buta huruf, dia adalah seorang penginjil yang giat. Dia meminta seluruh orang-orang di sana membuang berhala-berhala mereka. Kemudian mereka diajar Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli. Namun beberapa waktu kemudian, Pamai sakit dan meninggal dunia.

 

Pada tahun 1962 badan misi dari Reformed Belanda, UZV mengambil alih pekerjaan Tuhan di Papua. Pelayanan misi juga didukung oleh para guru dan pengkotbah dari pulau-pulau lain Hindia Belanda.

 

(http://tokoh.mansinam.com.)(EDITOR : SONNY RUMAINUM)

Facebook Comments
58Shares
This post was written by admin
About

nama : Simson winand Maurit Rumainum,Amd. IP Tempat dan Tanggal Lahir : Jayapura 28 Juni 1970 status : Lajang Pekerjaan : Jurnalis asli Papua Tamat : Universitas Cenderawasih Jayapura Papua,Fisip Uncen angkatan 2000

Categorised in:

No comment for Mengenang Kembali Kedua Rasul Tokoh Pekabaran Injil DiTanah Papua OTTOW dan GEISLER 1855

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *