Melahirkan adalah proses natural yang memberikan pengalaman berbeda-beda bagi setiap perempuan. Setelah perjuangan mengandung jabang bayi selama 9 bulan, perjalanan sesungguhnya bersama anak dimulai setelah proses kelahiran usai. Bagi para orangtua baru, membesarkan 2-3 anak saja mungkin terasa menantang dan penuh dengan lika-liku. Tapi pernah kebayang nggak kamu harus membesarkan 38 anak sekaligus tanpa figur seorang ayah dengan kondisi keuangan yang pas-pasan?

Kisah tragis dari seorang perempuan asal Uganda bernama Mariam Nabatanzi Babirye mungkin bisa jadi gambaran, bagaimana perjuangan seorang ibu menghidupi 38 orang anak dalam satu atap. Meski tetap berkeyakinan bahwa anak itu adalah berkat, namun hikmah dari kisah ini mungkin bisa memberikan insight baru tentang pentingnya mempertimbangkan jumlah anak dalam keluarga seperti dilansir dari laman Brightside. Simak ulasan Hipwee News & Feature baik-baik ya~

1. Mariam Nabatanzi Babirye bukanlah seorang perempuan kaya raya. Sejak usia 13 tahun, ia dipaksa menikahi seorang pria yang 27 tahun lebih tua darinya

Mariam dan anak-anaknya via brightside.me

Mariam Nabatanzi memiliki perjalanan hidup yang sulit dan penuh lika-liku. Sejak usianya masih 13 tahun, kedua orangtuanya menjual Mariam kepada seorang pria yang 27 tahun lebih tua darinya. Meski disebut sebagai ‘pernikahan’, Mariam yang masih remaja tak sungguh-sungguh memahami situasi yang dihadapinya sampai dia ditinggalkan sendiri di rumah sang suami. Setahun kemudian, dia dikarunia bayi kembar 2 pertamanya. Setahun kemudian, dia melahirkan bayi kembar 3 dan tahun selanjutnya ia melahirkan bayi kembar 4.

2. Melahirkan 44 orang anak, namun kematian 6 orang anaknya membuat Mariam ‘hanya’ menjadi ibu dari 38 orang anak dari suaminya

Bagi Mariam, anak adalah berkat Tuhan~ via brightside.me

Tragisnya, sebagai seorang remaja yang harusnya masih mengenyam pendidikan yang layak dan mengejar mimpi-mimpinya, Mariam harus berkutat dengan anak-anak dan suaminya. Tak cuma harus mengurus 38 orang anak yang ia lahirkan, Mariam juga kerap harus menangani anak-anak dari para perempuan masa lalunya sang suami. Mariam memiliki suami yang sangat otoriter dan siap menghajarnya, kapan saja dia punya kesempatan terutama saat Mariam mengajukan ide yang tak disukai sang suami. FYI, Mariam melahirkan 44 orang anak dan 6 di antaranya telah meninggal dunia.

3. Bukannya tak ingin berhenti melahirkan, tapi rupanya Mariam punya kondisi khusus yang membuatnya sulit untuk berhenti punya anak

Kondisi khusus membuatnya tak bisa menghentikan proses reproduksinya via www.pulse.ng

Di satu titik, ketika Mariam telah merasa tak mampu lagi melahirkan anak setelah anaknya yang ke-23, dia memutuskan pergi ke dokter demi menghentikan kemampuan reproduksinya. Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, sang dokter justru mendiganosa Mariam mengidap hiperovulasi. Kondisi khususnya diduga merupakan kondisi genetik, yang diturunkan dari orangtua yang juga memiliki sangat banyak anak kembar. Miris, dikatakan bahwa melakukan prosedur apapun untuk menghentikannya justru berpotensi membahayakan kesehatan dan nyawanya. Selama hidupnya, Mariam telah melahirkan 44 orang bayi, meliputi 6 kembar 2, 4 kembar 3, 3 kembar 4 dan hanya dua orang anak yang lahir tanpa kembaran. Itu belum termasuk 6 orang anaknya yang meninggal dunia lho

4. Tak pernah menganggap kelahiran anak-anaknya sebagai ‘kutukan’, Mariam justru merasa suaminya lah sosok yang paling mengecewakan dan memberatkan hidupnya

Tanpa suami, Mariam kini harus berjuang membesarkan anaknya sendirian via brightside.me

Alih-alih menganggap anak-anaknya sebagai sesuatu yang tak patut disyukuri, Mariam justru merasa anaknya sebagai berkat dari Tuhan yang tak dia sesali. Sungguh butuh kekuatan dan kelapangan dada yang luar biasa untuk bisa memiliki hati seperti sosok Mariam. Yang paling disesali dan membuat Mariam kecewa adalah sosok suaminya, yang tak pernah sungguh hadir dan mengambil andil dalam merawat anak-anaknya. Kerap ditinggalkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, membuat Mariam harus terus berjuang sendirian. Tak jarang bahkan sang suami hanya dikabari dan memberi nama kepada anak-anaknya melalui telepon. Putra tertuanya yang berusia 23 tahun bahkan mengaku, dia tak pernah melihat lagi sosok ayahnya setelah berusia 13 tahun.

5. Mendedikasikan hidupnya sepenuhnya untuk anak membuat Mariam rela kerja serabutan, demi anak yang terjamin makan dan pendidikannya

Pantang menyerah, perjuangan hidup Mariam sungguh luar biasa via www.xinhuanet.com

Tak putus asa, Mariam rela belajar dan bekerja serabutan demi menghidupi diri dan anak-anaknya.  Setiap harinya, keluarga Mariam membutuhkan sekitar 10 kilogram tepung jagung, 7 kilogram buncis dan 4 kilogram gula. Belum lagi biaya pendidikan untuk anak-anaknya. Untuk mengkover semua kebutuhan, Mariam mengumpulkan berbagai tanaman herbal untuk dijual, memanggang cake, mengorganisir dan mendekorasi acara sampai mengepang rambut para pengantin wanita. Beruntungnya, anak perempuan dari kembar pertamanya berhasil menjadi seorang perawat sementara yang lain menjadi tukang bangunan yang tersertifikasi. Butuh perjalanan yang masih panjang bagi Mariam untuk mendukung cita-cita anaknya yang lain, yang ingin menjadi dokter, guru bahkan pengacara.

6. Melalui kunjungan dari seorang jurnalis BBC, Kassim Kayira, Mariam ingin menyampaikan pesan berharga ini bagi dunia

Mariam bersama Kassim Kayira via brightside.me

Melalui kunjungan Kassim Kayira yang mendokumentarikan hidupnya, Mariam berharap agar di masa depan tak ada lagi orangtua dalam kultur mereka yang menjual anak-anak di bawah umur dengan embel-embel pernikahan. Anak-anak tersebut menderita terlalu berat dan kehilangan cinta kasih orangtua merupakan sesuatu yang tak akan pernah sepenuhnya dipulihkan dalam hidup mereka. Meski Mariam bertekad akan terus berjuang untuk membesarkan dan merawat anak-anaknya dengan sepenuh hati, dia berpesan kepada para pria agar jangan pernah melupakan tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah dalam pernikahan, karena membesarkan seorang anak sejatinya adalah tanggung jawab bersama. Ugh, so deep!

Semoga tak ada lagi Mariam Nabatanzi lain di dunia, yang harus menikah di luar keinginan dan memiliki keturunan melampaui kemampuan. Bukannya tak mensyukuri berkat Tuhan, tapi alangkah baiknya perihal jumlah keturunan turut menjadi pertimbangan saat kamu memutuskan menikah kelak. Banyak anak banyak rezeki mungkin masih berlaku di zaman nenek moyang kita dulu, dimana banyak anak akan membantu orangtua mengolah ladang sebagai sumber utama hidup. Tapi ketika kita hidup di era di mana taraf hidup telah meningkat seiring dengan kebutuhan pendidikan yang tinggi membuat kita perlu memikirkan kembali, benarkah banyak anak sama dengan banyak rezeki? Atau justru sebaliknya; butuh banyak ‘rezeki’ untuk menghidupi anak-anak dengan layak? ( By :RAISA ANGELIN )

(EDITOR : SONNY R)