Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Sampai pakaian ” Dalam Umat Kristenpun Diurus”

Sampai pakaian ” Dalam Umat Kristenpun Diurus”

(107 Views) Oktober 28, 2018 8:09 am | Published by | No comment

 YOUTEFAPOST.COMSeperti dilansir Kompas.com, bahwa DPR memutuskan RUU tentang Pesantren

ok

ketua PGI

dan Pendidikan Keagamaan menjadi usul inisiatif DPR RI.

Yang menarik pada RUU itu adalah Pasal 69 (4) bahwa harus ada ijin pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama Kabupaten/Kota untuk penyelenggaraan Sekolah Minggu dan Katekisasi.

Sekolah Minggu adalah Ibadah untuk jemaat usia anak (kurang lebih usia Balita-SD), sebagaimana ada Ibadah Bapak, Ibadah Ibu, Ibadah Pemuda dan Ibadah Remaja. Namanya saja Sekolah Minggu, tetapi itu adalah Ibadah Anak yang khotbahnya disampaikan dalam bentuk cerita.

Sedangkan Katekisasi adalah salah satu bentuk pembinaan iman melalui pendalaman pokok-pokok iman Kristen.

Gereja Protestan umumnya menerapkan katekisasi bagi pemuda pemudi jemaat yang akan melaksanakan peneguhan atas pengakuan iman percayanya di dalam suatu Ibadah yang disebut Ibadah Peneguhan Sidi. Jadi Katekisasi merupakan persiapan untuk IbadahPeneguhan Sidi.

Ada pula Katekasi Pra-Nikah. Materi yang diberikan adalah pemahaman iman Kristen tentang pernikahan. Tujuannya agar calon mempelai harus memahami pernikahan terlebih dahulu sebelum menikah.

Setelah katekisasi itu dilaksanakan, barulah Ibadah Peneguhan dan Pemberkatan Nikah itu dapat dilangsungkan. Jadi Katekisasi Pra-Nikah merupakan persiapan untuk Ibadah Peneguhan dan Pemberkatan Nikah.

Singkatnya, Sekolah Minggu adalah Ibadah Anak, sedangkan Katekisasi adalah persiapan untuk suatu Ibadah Khusus.

Dan sekarang, itu dirancang untuk harus ada ijin dari pemerintah kabupatan/kota! Saya jadi bertanya: apakah pelaksanaan Ibadah Jumat di Mesjid harus ada ijin pemerintah kabupaten/kota?

Ditambah lagi Pasal 69 (3) juga memberi batas bagi peserta Sekolah Minggu dan Katekisasi itu paling sedikit 15 orang. Apakah semua keluarga punya anak kecil? Ada Gereja memiliki jemaat usia anak hanya sedikit. Beranjak usia, mereka beralih ke Ibadah Remaja dan Pemuda.

Lalu kalau jumlah anak usia Batita-SD di bawah 15 orang, apa mereka tidak bisa melaksanakan Ibadah bersama kepada Tuhannya karena kuotanya tidak cukup? Lalu anak-anak itu harus masuk Ibadah orang dewasa, padahal mereka masih kecil dan tidak dapat memahami khotbah untuk orang dewasa.

Ini sudah kelewatan. Ibadah pun mau diundang-undangkan. Sampai-sampai Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melalui Sekretaris Umum Gomar Gultom akhirnya bersuara mengritisi akan hal ini [lihat: TribunKaltim].

Kalau Ibadah pun sudah mulai harus ijin pemerintah dan jumlahnya juga sudah mau diatur, maka itu ibaratnya sama dengan pemerintah mengurus pakaian dalam umat Kristen di Indonesia.

Bila mau mengenakan pakaian dalam, maka wajib ijin dari pemerintah kabupaten/kota. Harus memiliki minimum 15 pakaian dalam. Kalau pakaian dalam tidak berjumlah lima belas, tidak boleh menggunakan pakaian dalam!! Seperti itu.

Sudah jadi apa orang Kristen di negara ini! Menerima ucapan Selamat Natal sudah tidak boleh. Pernak pernik Natal tidak boleh. Gereja-gereja dibom. Ibadah di rumah-rumah juga tidak semua mendapat ijin warga karena menyebut itu mengganggu warga.

Padahal ibadah di rumah tidak tiap hari dilakukan. Itu berjadwal. Tapi sebaliknya, tiap hari suara toa dari segala penjuru dari pagi sampai pagi, bisa! Saya mengajak semua umat beragama menghormati ini dan memandang ini dari perspektif Ketuhanan Yang Mahaesa — Di sinitapi bagaimana sebaliknya?

Harus dihormati tapi tidak mau menghormati. Harus dihargai tapi tidak mau menghargai. Mau menghina tapi tidak mau dihina. Tidak bisa khilaf, langsung didemo dan dipenjarakan.

BTP menyebut ayat didemo dan dipenjarakan. Ya, sedikit banyaknya Beliau ada salah. HBR menghina Yesus. Beliau juga salah. Tapi mengapa tidak mendapat perlakuan hukum yang sama di negara ini?

Laporan akan hal ini sudah dimasukkan dari tahun 2016, namun proses hukum sunyi sampai detik ini. Ini fakta! Lagi-lagi kami harus terima saja.

Dan sekarang, pakaian dalam umat Kristen pun mau diurus. Kurang tabah seperti apa lagi orang Kristen di negara ini?!

Ini sudah kelewatan. Ibadah pun mau diundang-undangkan. Sampai-sampai Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melalui Sekretaris Umum Gomar Gultom akhirnya bersuara mengritisi akan hal ini seperti dilansir TribunKaltim.

Kalau Ibadah pun sudah mulai harus ijin pemerintah dan jumlahnya juga sudah mau diatur, maka itu ibaratnya sama dengan pemerintah mengurus pakaian dalam umat Kristen di Indonesia.

Bila mau mengenakan pakaian dalam, maka wajib ijin dari pemerintah kabupaten/kota. Harus memiliki minimum 15 pakaian dalam. Kalau pakaian dalam tidak berjumlah lima belas, tidak boleh menggunakan pakaian dalam!! Seperti itu.

Sudah jadi apa orang Kristen di negara ini! Menerima ucapan Natal sudah tidak boleh. Pernak pernik Natal tidak boleh. Gereja-gereja dibom. Ibadah di rumah-rumah juga tidak semua mendapat ijin warga karena menyebut itu mengganggu warga.

Padahal ibadah di rumah tidak tiap hari dilakukan. Itu berjadwal. Tapi sebaliknya, tiap hari suara toa dari segala penjuru dari pagi sampai pagi, bisa! Saya mengajak semua umat beragama menghormati ini dan memandang ini dari persektif Ketuhanan Yang Mahaesa — Di sini, tapi bagaimana sebaliknya? Penulis : Hennie Engglina Kompasiana.com

Facebook Comments
13Shares
This post was written by admin
About

nama : Simson winand Maurit Rumainum,Amd. IP Tempat dan Tanggal Lahir : Jayapura 28 Juni 1970 status : Lajang Pekerjaan : Jurnalis asli Papua Tamat : Universitas Cenderawasih Jayapura Papua,Fisip Uncen angkatan 2000

Categorised in:

No comment for Sampai pakaian ” Dalam Umat Kristenpun Diurus”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *