Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Politik, Hukum dan Kriminal » Terminal K-350 Pembangunan Nabire Alat Core Drill Tidak Layak Uji beton

Terminal K-350 Pembangunan Nabire Alat Core Drill Tidak Layak Uji beton

(160 Views) Mei 25, 2018 12:43 pm | Published by | No comment

jumpa pers kepala UPTD Adolof wakum (Dok. Foto :Papua Satu.com)

JAYAPURA, 25/04/2018 – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengujian dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua terpaksa angkat bicara atas hasil uji beton pembangunan terminal penumpang tipe B Tahun 2016 di kabupaten Nabire Provinsi Papua.
Pasalnya, pengujian hasil Lab Beton dengan menggunakan alat Core Drill milik LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) Papua dijadikan alat bukti oleh kepolisian daerah Papua untuk menyeret mantan Kadis Perhubungan Provinsi Papua Djuli Mambaya sebagai tersangka, karena menemukan adanya kerugian Negara senilai Rp 1,7 Milyar.
Namun berdasarkan hasil Lab uji beton pembangunan penumpang Tipe B kabupaten Nabire dengan menggunakan alat Core Driil tidak layak dan tidak bisa digunakan untuk menguji beton K-350 kg/Cm2, yang seharusnya pengujian beton K-350 kg/Cm2 menggunakan alat Kubus.
Kepala UPTD Balai Pengujian dan Laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, Adolof Wakum menyebutkan, pembangunan terminal penumpang tipe B Tahun 2016 di Kabupaten Nabire, sebelumnya sudah melewati pengujian sampel kubus beton K-350 kg/cm² pada 19 Januari 2017.
Sebagian besar pengujian sampel rata-rata dinyatakan baik, sehingga disarankan kepada lembaga manapun agar mempertimbangkan untuk menggunakan sampel kubus beton dalam menghitung pembayaran.
Sebab penggunaan Core Drill beton masih diperdebatkan apakah dapat mewakili semua segmen dan struktur beton yang telah dibangun. Dilain pihak, esensi dari pengujian lapangan, tidak boleh sampai merusak beton yang telah dikerjakan.
“Teknisnya kan Beton K350 adalah kekuatan tekan beton 350 kg/cm². Dimana nanti ada sampel yang dibawakan pihak ketiga kepada kami di lab untuk diuji melalui kubus beton ukuran 15x15x15 cm pada umur 28 hari,” jelasnya
Alat Kubus beton berukuran 15x15x15 ini sudah menjadi spesifikasi umum teknis di bina marga serta jadi acuan untuk keperluan evaluasi mutu beton, yang juga dipakai sebagai dasar pembayaran.
Kuat tekan beton itu tertuang dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) 1971, yang menyebutkan bahwa kuat tekan beton diartikan sebagai kekuatan tekan yang diperoleh dari benda uji gugus yang berisi 15cm³ pada umur 28 hari.
“Jadi menurut hemat kami dasar pembayaran yang dihitung mesti menggunakan kuat tekan beton kubus,” terang Adolof yang didampingi jajarannya, saat memberikan keterangan kepada pers, Jum’at (25/5/2018).
Dengan demikian, lanjut dia, penggunakan Core Drill beton untuk menghitung pembayaran sebenarnya dirasakan kurang pas. Apalagi dampak dari penggunaan alat itu akan muncul lebih banyak kerugian, karena sifat dari coredrill beton yang lebih merusak.
Sementara untuk pengujian lapangan akan jauh lebih baik bila menggunakan metode uji angka pantul beton keras atau hammer test.
“Hanya memang pada setiap pengujian pasti ada kelemahan, apalagi saat pengujian lapangan untuk pekerjaan yang sudah selesai. Sebab akan ada banyak lemahnya karena ada (perhitungan) meleset atau deviasi. Hanya apakah yang dites (dengan coredrill beton) bisa mewakili seluruh struktur?…(Kutipan dari Papua Satu . Com)

Facebook Comments
7Shares
This post was written by admin
About

nama : Simson winand Maurit Rumainum,Amd. IP Tempat dan Tanggal Lahir : Jayapura 28 Juni 1970 status : Lajang Pekerjaan : Jurnalis asli Papua Tamat : Universitas Cenderawasih Jayapura Papua,Fisip Uncen angkatan 2000

Categorised in:

No comment for Terminal K-350 Pembangunan Nabire Alat Core Drill Tidak Layak Uji beton

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *